Hasani Ahmad Said – BIODATA PROFIL WISUDAWAN TERBAIK KE 83 UIN JAKARTA

Doktor Ke 821 SPs UIN Jakarta Tercepat Dan Termuda Saat Ini Lahir dari Banten

Nama Lengkap : Dr. Hasani Ahmad Said, M.A.
Alias : Hasani
Tempat Tanggal lahir : Cilegon, Banten, 21 Pebruari 1982,
No Telp dan Email : 085216099379, E-mail: hasaniahmadsaid@yahoo.com.
Nama Ibu : Sunariyah binti H. Surya
Nama Ayah : Ahmad Samsuri bin H. Said
Fakultas & Prodi : Program DOKTOR Sekolah Pascasarjana, Konsentrasi Tafsir

ANAK KE 11 DARI 12 BERSAUDARA
Keluarga besar jadi sorotan
Hasani adalah anak kesebelas dari dua belas bersaudara dari pasangan ayahanda Ahmad Samsuri bin H. Said dan Ibunda Sunariyah binti H. Surya. Kami dikenal sebagai keluarga besar yang tinggal di Pabean, Cilegon, Banten. Mungkin saja ketika itu masih kuat dan melekat anggapan “Banyak anak, banyak rizki”, kata-kata ini bukan isapan jempol belaka, tetapi bagi keluarga kami sebuah semboyan yang bisa dikatakan mukjizat. Bagaimana tidak hidup dari bapak seorang tani kecil mampu menyekolahkan dengan semangat dan doa. Dari seorang ayah dan seorang ibu kini lahir dan berkembang menjadi 12 orang, dari 12 anak lahir dan berkembang menjadi puluhan orang yang lahir dari putera dan puteri dari satu pasang suami istri.
Dzurriyyah hasil sepasang suami istri
Kesebelas kakak, seorang adik, dan beberapa keponakan itu adalah: Kang Fuad, S.Pd. dan Teh Isah beserta tiga putri: Linda, Eroh dan Najma; Kang Fadil dan Teh Umroh beserta ketiga anak: Syukron IIm dan Azka; Kang Tafriji, S.E., M.M. dan Teh Sumarni, S.Pd., beserta tiga putra: Adi S., Opan dan Akim; Teh Mat dan Kang H. Zaenul beserta empat anak: Tuti (alm.), Fauzi, Lina dan Ela; Kang Isro dan Teh Suariyah beserta tiga anak: Indah, Iqbal, dan Fakhri; Teh Muk dan M. Isa (alm.) beserta tiga anak: Didit (alm.), Yuli dan Arul; Kang Lies dan Teh Nunung beserta satu putri: Tari; Kang Suri, S.Sos., dan Teh Fat beserta dua anak: Syifa dan Haikal; Teh Toya dan Kang Sub beserta tiga putera: Anis, Indra dan Wildi; Teh Juda dan kang Taufik beserta satu peutera bernama Alvin, dan Dedi, S.Sos dan istrinya bernama Winda terima kasih atas dukungan dan doanya.

CITA – CITA
Keluarga Guru, Filosofi Kehidupan dari kakak
Dari kecil sudah diarahkan untuk menjadi guru oleh kakak-kakaknya yang nota bene sebagai guru dan PNS Dinas Pendidikan & Kebudayaan Di Kota Cilegon. Akan Tetapi Hasani selepas Madrasah Aliyah justru mengambil program Tafsir Hadis di IAIN Syahid ketika itu melalui jalur PMDK 10 tahun lalu.
Pada semester 3 kembali kakak meminta untuk pindah ke Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam. Kata-kata yang terlontar dari kakaknya yaitu kang Fuad yang sekarang menjadi kepala sekolah di daerah Kresek, Tangerang di antaranya: “Wes San pindah bae ning jurusan Guru, endah gampang nganjingaken kerjane” (Udah San pindah aja ke guru biar gampang masukin kerjananya) dengan logat Jawa Banten. Bahkan ketika itu, kakak yang siap membiaya kuliahnya kalau sampai tidak terbayar biaya kuliahnya, sudah memberikan uang pindah jurusan sebesar 300,000 ketika itu. Namun uang itu tetap diambil dan tidak digunakan untuk pindah jurusan, tetapi masih tetap menekuni konsentrasi Tafsir-Hadis. Bahkan di antara kakak yang lain juga berujar yaitu kang Tafriji yang saat itu bekerja di Dinas Pendidikan & Kebudayaan dan saat ini menjadi Lurah di Cilegon “Ari gurume San gampang kakang nganjingaken arep ngajar ning sekolahan endi bae” (Kalai guru, gampang masukin ngajar dimana saja). Tapi lagi-lagi nasihat ini tidak diindahkan karena terpincut ingin menekuni dunia Tafsir seperti sang idola sejak Aliyah yakni Prof. Quraish Shihab.
Doktor termuda dan tercepat saat ini
Hingga akhirnya tahun 2005 program S-1, jurusan Tafsir Hadis dapat dirampungkan dalam kurun waktu 3,4 tahun. Tidak puas dengan ilmu yang telah dikantongi semasa S-1, di tahun yang sama kembali menjelajahi jurusan yang sama yakni Tafsir Hadis pada PPs UIN Jakarta, hinggga dapat menyelesaikannya dalam waktu 2 tahun 1 bulan. Bahkan tidak puas dengan gelar magister, Hasan panggilan kesayangan bagi keluarganya kembali memasuki program doktor dengan konsentrasi jurusan yang sama yakni tafsir, dan dapat diselesaikan dengan waktu yang relative singkat 2 tahun 6 bulan.
Dari Guru Kecil Hingga Guru Besar
Dari cita-cita awal keluarga menjadi GURU (kecil di sekolah) hingga cita-cita Hasan menjadi GURU BESAR, kini sedang dipersiapkan langkah-langkah menuju GURU BESAR, bahkan saat ini sedang proses pengajuan ke LEKTOR di kampus IAIN Raden Intan, lampung tempat Hasan mengabdi.
Sejak kecil sering membubuhkan gelar Prof.
Cita-cita dari GURU kecil menuju cita menjadi GURU BESAR. Tidak disangka dan diduga bahkan tanpa direncanakan, ketika satu ketika membuka buku-buku catatan jadoel mulai buku tulis SD-MI-MTs hingga Aliyah di mana saya sedang senang-senangnya menulis nama di hampir tiap lembar buku tulis itu, di sana terangkai dan tercantum ejaan Prof. Dr. KH. Hasani AS (AS: kependektan dari Ahmad Samsuri, nama Bapak), tulisan ini ketika itu tidak mempunyai makna, bahkan tidak dimengerti sama sekali apa maksud tulisan itu. Dan ternyata kini, Hasan sedang menjalani itu semua. Semoga cita-cita dan doa itu terkabul.

PENGALAMAN / PERISTIWA YANG MENARIK / MENGHARUHKAN SELAMA KULIAH
Sang Pakar Tafsir
Berawal Dari Sering Diskusi Dengan Guru Madrasah Aliyah di Karangtengah, Pabean, Cilegon, Banten (H. Muktillah, S.Ag., M.M.Pd.) Yang Pernah Melanjutkan Kuliah Di PPs IIQ Jakarta, Dia Selalu Menceritakan Sosok Dan Ketokohan Sekaligus Kepakaran Prof. Quraish Shihab, Prof. Agil Munawar, Dan Dr. Ahsin Sakho Di Bidang Tafsir. Mulai dari sering menularkan ilmu dari jakartaa itu, ternyata terpatri dalam ingatan, sehingga bertekad kuat untuk kuliah di Jakarta, kendati keluarga awalnya tidak mengizinkan karena alasan biaya.
Terinspirasi Dari Cendekiawan UIN
Bahkan ketokohan beberapa ilmuwan sekaliber Prof. Nurcholis Madjid, Prof. Azra, Prof. Quraish, Prof. Komar, Prof. Din, Prof. Nasar yang sering menghiasi layar TV sebagai pengamat, pakar dan Cendikiawan mampu menyihir saya untuk semangat mengayuh kuliah di Jakarta. Tekad kuat itu akhirnya terkabul menuju gerbang peradaban di kampus biru IAIN ketika itu dan diterima di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir Hadis.
Meraih Doktor Berkat Al-Quran
Berbekal suara emas dalam bidang nagham al-Qur’an yang pernah digeluti semasa di kampungnya dulu, Hasani memulai karirnya dari dormitory HMB Jakarta, hinga Minal Masjidil Harom ilal Masjidil Aqsha laksana konsep Isra’ Mikrajnya Nabi. Kehidupan dari satu masjid ke masjid lain ini dengan tetap mempertahankan kualitas suara emas tilawatil qur’an, ternyata banyak mendatangkan rizki yang cukup untuk biaya kuliah dan makan sehari-hari ketika itu. Mulai dari ngajar ngaji, khutbah, mengisi pengajian, hingga menjadi “LAKI-LAKI PANGGILAN” untuk membaca Alquran acara PHBI, Nikahan, Pengukuhan, Seminar, dari tingkat kampung, masjid kecil, besar, hotel, pengukuhan Dr. Hc., Guru besar, TV swasta, hingga ngaji ke Istana negara.
Imam & Muadzin Masjid Fathullah Jadi Doktor
Doktor yang kini masih menjadi salah seorang imam masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatulhah, Jakarta ini, Berkah Alquran membawa Hasan menjadi Sarjana bahkan hingga meraih Magister dan Doktor. Terhitung doktor ke 2 yang lahir dari muadzin dan imam Masjid Fathullah setelah pendahulunya yaitu Dr. A. Tholabi.
Dari mulai S-1 hingga S-2 Hasani mengabdikan diri di Masjid Fathullah UIN Jakarta sebagai Muadzin dan Imam Masjid, bahkan hingga S-3 Hasani masih menjadi imam tetap masjid Fathullah, selain juga menjadi qori’ (pembaca Alquran) dan sedikit banyak khutbah dan ceramah dari mimbar ke mimbar. Berbekal wejangan dari ustadz semasa di pesantren dan madrasah, bahkan hingga kuliah untuk selalu menuntut ilmu kapan dan dimanapun.
Belajar dari Kesuksesan Guru Besar Asal Cilegon-Banten
Prof. M. Amin Suma dan Prof. Rif’at Syauqi Nawawi merupakan sederet guru besar asal Cilegon-Banten tonggak dan teladan utama yang menorehkan tinta dan kenangan awal ketika menginjakkan di IAIN Jakarta ketika itu, hingga kini. Bahkan selepas S-2 tahun 2007, bimbingan it terus begitu terasa dengan misalnya Prof. Amin menarik dan meminta saya untuk memabantu mengajar di Fakultas Syariah dan Hukum untuk menjadi dosen dan asisten Professor terhitung dari 2007-2009. Begitu pula dengan Prof. Rif’at Syauqi yang juga mantan Dekan Fakultas Tarbiyah mengajak untuk mendampingi menjadi mengajar Ulumul Qur’an dari tahun 2007-2009. Setali tiga uang, dua guru besar UIN asal Cilegon ini, membantu mendewasakan pemikiran dan cakrawala dalam dunia kampus dan akademisi sejati. Begitupun Dr. Tholabi yang memberikan bimbingan berharga dari S-1 hingga saat ini, mulai mengenalkan dengan dunia organisasi kampus, hingga menggantikan job-job ngaji di Kampus sebagai kader terbaiknya. Dan kini, binaan dari cendikiawan Cilegon yang lahir lebih awal karirnya di UIn itu, melihat kadernya telah menjadi Doktor dan dosen tetap di IAIN Raden Intan Lampung.
Selain yang telah disebutkan di atas, bekal berharga juga misalkan Hasan dapatkan dari Prof. Komar, Prof. Fathurrhman Rauf, ketika masih S-1 ketika itu, Dr. Ahzami, Dr. Ahsin untuk jangan pernah berhenti menuntut ilmu, bahkan kekurangan uang bukan suatu masalah, tidak kuliah masalah, kuliah juga masalah, yang jelas hadapilah masalah itu dengan sebaik mungkin, demikian beberapa wejangan yang pernah diterima.
S1, S-2, S-3 nyambung teruuuuus!!!
Selepas S-2 tahun 2007, bahkan saya pernah minta pandangan untuk melanjutkan kuliah S-3 yang ketika itu saya belum mempunyai pendapatan tetap, banyak persepsi dari kawan dan beberapa guru besar untuk tidak melanjutkan dulu ke jenjang S-3, bahkan menyuruh untuk memanfaatkan ijazah S-2 nya. Sehingga pada akhirnya saya minta pandangan ke Prof. Fathurrahman R. dan kang Dr. Tholabi, dari dua orang ini menemukan semangat kembali untuk tetap lanjut S-3 dengan hanya menagntongi biaya masuk saja ketika itu, dengan keyakinan bahwa Allah Maha Kaya, akhirnya kuliah S-3 pun telah dirampungkan.
Wisuda Doktor & Dokter (de Besar dan de kecil): Doktor meraih Dokter; Dokter meraih Doktor (Dr. & dr.)
CALON ISTRI “memaksa” saya menjadi DOKTOR. Ketika menemukan tambatan hati yang beda 5 tahun dengan saya, bahkan ketika itu saya menjajaki di program S-2, calon istri baru masuk di Program S-1 FK UIN, yang bisa ditempuh paling cepat 5 tahun, atau bahkan lebih.
Dengan kekuatan rajutan cinta, tanpa sadar membius untuk menunda menikah demi cita-cita dan cinta. Ternyata dengan itu pula, memaksa saya untuk cepat menggondol gelar doktor. Niatan suci itu menyatukan dua keluarga dengan mempunyai angan-angan dari masing-masingnya dengan mimpi WISUDA DOKTOR DAN DOKTER BARENG DAN SETELAH ITU MENIKAH DALAM BALUTAN GELAR DOKTOR DAN DOKTER atau biasa kami berselorah sama-sama bergelar [de er] Dr (de besar dan er kecil) dan dr. (de dan er kecil). Dan mimpi itu kini terlaksana pada hari wisuda hari ini tepatnya saya dan calon istri saya menjadi wisudawan-wisudawati ke 83 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Menimba Ilmu ke Negeri 1001 Menara, Kairo-Mesir
Mengunjungi dan belajar ke negeri Mesir merupakan impian yang belum kesampaian, bahkan ketika tahun 2007 ke tanah suci, salah satu doa yang dipanjatkan adalah izinkan belajar di tanah para Nabi.
Keinginan kuat belajar ke Negara-negara Arab, khusunya Mesir Insya Allah akan terkabul pada tanggal 18 April – 15 Juni 2011 atas sponsor Pusat Studi al-Qur’an melalui Program Sandwich Pusat Studi al-Qur’an ke Kaior-Mesir sebagai realisasi program unggulan Pendidikan kader Mufassir yang dikader mendalami Tafsir dan Ulumul Qur’an selama 6 bulan di PSQ yang diselesksi dari seluruh dosen Tafsir se Indonesia, selepas Wisuda ke 83 UIN Jakarta Sabtu, 16 April 2011.

PENGALAMAN / PERISTIWA YANG MENARIK / MENGHARUHKAN DI LINGKUNGAN KELUARGA
Urgensi tak menunda pendidikan
Pendidikan merupakan sesuatu hal yang pokok dan urgen bagi setiap warga Negara yang tujuannya mencerdaskan bangsa. Hal ini tentu sesuai dengan semangat UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Atas dasar dan semangat ini pula, dalam usia yang masih relative sangat muda yaitu genap 29 tahun, saya, Hasani telah menapaki jenjang pendidikan mulai dari SD, MTs (SMP), MA (SMA), S-1, S-2 hingga telah menyelesaikan S-3 di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekilas tentang Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, merupakan jantung pendidikan Islam di Indonesia yang mengonsentrasikan pada Program Studi Pengkajian Islam, dengan tujuan menghasilkan lulusan berwawasan global dan memiliki sensitifitas tinggi terhadap nilai dan tradisi lokal serta mempunyai ciri pengintegra-sian keilmuan, keindonesiaan, kemanusiaan dan keislaman.
Filosofi; Menguak filsafat Pendidikan dari seorang Bapak yang berprofesi Petani dan Tukang Sunat hingga era tahun 90-an
Suatu ketika hendak melepas Hasani kuliah S-1 di Jakarta, dengan tangisan doa karena khawatir tidak terbayar biaya kuliah di Jakarta kelak, namun dengan penuh meyakinkan setelah saya mendesak untuk tetap yakin bisa dan mampu kuliah di Jakarta, Bapak berseloroh dengan bahasa Cilegon “aje maning tanah San (panggilan Hasani), idep ge ning laku meh tak dol ari gena pendidikan meh” (jangankan tanah, bulu mata juga kalau laku saya jual kalau untuk pendidikan). Semangat membara inilah yang membekas hingga hari ini, sehingga dapat terus nyambung kuliah hingga S-3.
Jadi dosen tetap Tafsir di IAIN Raden Intan Lampung
Saat ini hasani adalah dosen tetap di IAIN Raden Intan, Lampung, mengampu mata kuliah Tafsir dan Ilmu-Ilmu al-Qur’an. Antara pentingnya pendidikan dan besarnya biaya pendidikan menjadi momok bagi sebagian orang, ada yang enggan kuliah karena keterbatasan biaya. Dengan mencoba mensinergikan antara pentingnya pendidikan dan besarnya biaya pendidikan dengan keyakinan Allah Maha Kaya, yang jalan rizki-Nya tak disangka-sangka dari semua arah. Sejatinya, sesuai UU, biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah, namun pada tataran prekteknya, slogan itu kurang mampu memberikan pemerataan pada semua lapisan warga Negara Indonesia.
Menjadi dosen bagi Hasan bukan angan-angan tapi cita-cita yang terpatri dari selepas S-1, tidak tau mengapa keingin kuat ini selalu mengikuti langkah sehingga menggelora dalam otak dan Alhamdulillah niat itu terealisai melalui jalur IAIN Lampung, setelah sempat juga ikut tes CPNS dosen tahun 2007 di UIN Jakarta, namun belum berhasil.

ASAL KELUARGA DAN PEKERJAAN IBU DAN AYAH
Anak Petani kecil, Putera Cilegon-Banten jadi Doktor
Hasani bin Ahmad Syamsuri bin H. Said atau sering ditulis menjadi Hasani Ahmad Said, dua belas bersaudara, lahir 29 tahun lalu di kampung Pabean, Cilegon, Banten dari seorang bapak dan ibu yang berprofesi sebagai petani di kampung, yang mempunyai filosofi dan semangat tinggi dalam menyekolahkan anak-anaknya, meskipun hidup apa adanya.
Suplai Doa Ibu mengantarkan kesuksesan
Meskipun keluarga tani kecil dan latar belakang pendidikan orang tua dari madrasah dan pesantren, namun semangat mereka untuk menyekolahkan anak terhitung mempunyai perhatian besar.
Bagi Hasani doa Ibu adalah segala-galanya, hampir dipastikan setiap kegiatan apapun, Hasani tidak luput untuk minta didoakan oleh Ibunya melalui shalat, puasa, dan bacaan-bacaan khusus yang selalu dilantunkan oleh Ibu setiap waktu shalat. Bahkan surah Yasin dan Tabarak, shalawat Nariyah, dan doa-doa lain tidak henti-henti terluncur demi mendoakan anaknya di setiap waktu.
Bahkan, ketika promosi doktor ke 821, merupakan mukjizat tersendiri yang memudahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dewan penguji disertasi ketika itu.

PRESTASI AKADEMIK / NON AKADEMIK
Banyak menghabiskan hidup bersama Alquran: Dari Juara MTQ Kecamatan Hingga Juara Nasional
Prestasi-Prestasi yang pernah ditorehkan adalah: pada tahun 1999 sebagai Juara III MTQ Tingkat Kecamatan Pulo Merak Cilegon Banten; 2003: Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi; 2004: Juara I MTQ Tingkat Nasional Oxford Cours Indonesia bekerjasama dengan DEPAG RI; 2004: Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi; 2004: Juara II MSQ PIONIR Tingkat Nasional antar Mahasiswa se-IAIN dan PTAIN di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung; 2004: Juara I MTQ se-UIN BEMJ PBA UIN Syahid Jakarta; 2004: Juara I MTQ GEBYAR HIQMA se-Jabodetabek; 2004: Juara I MTQ se-Jabodetabek di Masjid al-Azhar; 2004: Juara III MTQ se-Jabodetabek di Masjid Sunda Kelapa memperebutkan Piala Menteri Agama RI, DEPAG RI; 2004: Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Tangerang; 2005: Juara II MSQ Tingkat Kota Tangerang; 2005: Juara I MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi.
Juara Kelas dari SD hingga Doktor
Mulai dari SD-SMA, Hasani menjadi juara kelas dan lulusan terbaik urutan tiga besar. Ketika S-1 Hasani menyelesaikan dalam waktu 3 tahun 4 bulan (2001-2005), S-2 selesai 2 tahun 1 bulan (2005-2007), dan S-3 mulai tahun 2008 hingga saat ini, ingin pula meraih doktor termuda usia 29 tahun dan dapat menyelesaikan dalam krun waktu 2 tahun enam bulan. Semangat ini terus Hasani gelorakan agar kuliah dan percepatan studi sesuai dengan yang direncakan.

KEGIATAN ORGANISASI
Aktifis Dari Ketua Osis hingga Pengurus Intra dan Ekstra Kampus
Meskpipun kuliah dalam waktu yang relative cepat, hasani juga tidak kuper dengan organisasi. Di bidang organisasi, pernah menjabat, 1998-1999: Ketua OSIS MA Al-Khairiyah Karang Tengah; 2003-2004: Ketua I Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Quran; 2003-2004: Ketua koordinator bidang Tilawah al-Qur’an Himpunan Qori’dan Qori’ah Mahasiswa UIN Jakarta; 2004-2005: Ketua koordinator divisi Tahsin al-Qur’an Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qura’an Masjid Fathullah UIN Syahid Jakarta; 2004-2005: Pengurus Cabang HMI Ciputat; 2004-2005: Wakil Ketua HIQMA UIN Syahid Jakarta; 2003-Sekarang: Sekretaris Forum Silaturrahmi Jama’ah Masjid (FOSMA) Fathullah UIN Syahid Jakarta; 2005-Sekarang: Dewan Alumni HIQMA UIN Syahid Jakarta dan Dewan Pertimbangan Organisasi HIQMA UIN Jakarta; 2006-2007: Dewan Pertimbangan Organisasi pada LTTQ (Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an) Masjid Fathullah UIN Jakarta; 2007-2008: Direktur Public Relation pada LTTQ (Lembaha Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an) Masjid Fathullah UIN Jakarta; 2008- sekarang: Instruktur tahsin Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

BEASISWA
Selama studi, dari S-1 hingga S-3, Hasani pernah memperolah keringan dari beberapa penyandang dan penyalur beasiswa, di antaranya Kementerian Agama RI yang membantu lewat Program Beasiswa Pendidikan untuk Dosen IAIN Raden Intan, Lampung dan Beasiswa Pendidikan Kader Mufassir, Pusat Studi al-Qur’an, beasiswa Cin Kung, beasiswa Bazis DKI Jakarta maupun bantuan dari perorangan. Bantuan dan penghargaan dari institusi dan perorangan ini turut membantu meringankan beban finansial selama studi.

*Tulisan ini diambil dari profile wisudawan terbaik pada wisuda UIN Syarif Hidayatullah ke 83, tahun 2011.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post RIWAYAT HIDUP HASANI AHMAD SAID