ARMUNA DENGAN BUS VVIP, CATATAN HAJI 2019

Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) dengan Bus VVIP

Laiknya haji reguler, haji plus juga menempati rute dan prosesi yang sama.
Tahun lalu (2018), jauh2 hari sudah tertata rapih kapan dan dimana tenda yang akan ditempati baik di Arafah maupun di Mina.
Persiapan demi persiapan, rapat demi rapat dijalani demi memastikan keamanan dan kenyamanan proses armuzna.
Mulai dari tarwiyah tanggal 8 Dzulhijjah yang tahun ini bertepatan dengan hari Jumu’ah.
Haji kali memutuskan sholat Jum’at di Masjidil Haram, karena memang agenda menuju Arafah di planningkan tengah malam tanggal 9 Dzulhijjah. Jadi masih ada keleluasaan waktu buat sholat jumah di harom.
Tengah malam, bus pun datang setelah menjemput rombongan pertama yang ditempatkan di hotel Darut Tauhid, persis depan pelataran masjidil haram.
Sedangkan rombongan yang saya bawa, pasca dari Swiss Makka, Hotel berbintang lima yang juga persis depan pelataran masjidil haram, mendekati armuzna kami pindah ke Le Meridien Hotel, daerah Kudi (كدى).
Tengah malam, kami diangkut dari Meridien, sama-sama dengan rombongan satu yang dari Darut Tauhid Hotel mengarah ke area Arafah. Meski jarak tempuh tempuh perjalanan tidak tidak terlalu jauh -+ 16 km, namun kemacetan disertai kesemrawutan jalan karena kendaraan hilir mudik menuju tempat yang sama. Sehingga, perjalanan yang mestinya bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit molor hingga berjam-jam melewati waktu subuh bahkan sampai waktu dhuha.
Namun nyamannya bus yang kami tumpangi dan sewa dengan fasilitas serba ada konon sewa bus nya hampir menembus di angka 300 juta dengan angka rupiah, fantastis, ya begitulah musim haji. Armuzna menjadi berkah tersensiri buat bisnis transportasi, yang tidak jarang memberatkan konsumennya. Misalnya kami yang biasa naik taxi dari hotel Meridien ke harom anatar 15-20 SAR, bisa memuncak gila-gilaan sampai antara 400-500 SAR.
Dari sisi ini sesungguhnya, jamaah haji reguler sangat diuntungkan bahkan semestinya berterima kasih kepada pemerintah dengan ongkos murah 25 juta setoran awal plus dengan pelunasannya kira-kira di angka 35 juta tinggal di hotel Makkah maupun Madinah selain di armuzna yang disiapkan tenda, makan 3x sehari, plus buah, paket gula, kopi fan full pelayanan kesehatan. Hanya saja catatan berikutnya adalah masa tunggu yang mengular hingga puluhan tahun tidak lepas PR pemerintah dan tanggungjawab bersama sebagai anak bangsa biar memudahkan bagi siapapun menunaikan rukun Islam yang ke lima tanpa harus nunggu antrian yang amat panjang.
Beberapa jam menjelang waktu wukuf, kmai masih bisa rehat, sholat dan canda-canda kecil. Tepat matahari beringsut sedikit dari tengah menandakan waktu dzuhur, itu pertanda waktu mustajab telah dimulai, di situ juga titah Nabi ‘al-hajju ‘arafah: puncak haji adalah (wukuf) di Arafah.
Hp sudah saya off sejam sebelum waktu wukuf biar lebih konsentrasi berdoa dan memanjatkan doa. Saya pun memimpin sholat berjamaah jama’ dan qashar dzuhur dan ashar.
Puji-pujian dan aholawatpun kami lantunkan puluhan, ratusan bahkan ribuan kali seraya memanjatkan seluruh doa-doa kebaikan untuk istri, anak-anak, orang tua, kakak-adik, keponakan, paman, bibi, uwa, guri, ustadz, kyai, dosen, teman-teman dan juga tidak lupa kebaikan bangsa dan negara baik yang nitip doa maupun yang tidak semua terpanjatkan mengetuk pintu langit.
Byurrrrr….. hujan pun turun tanda (semoga) mustajabnya doa, dari rintik-rintik sampai hujan yang amat lebat tepat di sore hari. Yang asyik berdoa di luar pun berhamburan, bahkan ada juga yang khusyu’ tak memedulikan hujan turun dengan kilat menyambar dua asyik ma’syuk menyatu dengan alam dalam panjatan doa. Bahkan ada yang sengaja larut dan melarutkan diri dengan guyuran air hujan yang kian lebat.
Subhanallah langitpun runtuh dengan iringan jutaan doa, menandai deruan kilat menyambar dibarengi dengan tetesan hujan tanda keberkahan. Alam pun ikut mengamini, di antara jutaan, milyaran bahkan triliunan malaikat yang tidak kalah juga turut menyambungkan doa hamba-hambaNya.
Menjelang Maghrib, hujan pun reda mengiringi berakhirnya waktu wukuf (semedi, berdiam diri dalam panjatan doa). Saya pun keluar sekedar duduk-duduk sambil melihat situasi di luar yang juga disesaki ribuan jamaah wukuf dari berbagai negara.
Tepat waktu maghrib, saya imami sholat maghrib dan isya berjamaah jama’ taqdim qashar. Selesai sholat dan dzikir, sambil beringsut menyaksikan hilir mudik bus-bus beringsut menuju Muzdalifah guna mabit sekaligus mencari kerikil untuk lontar (menyambit syetan) jumrah. Bagi yang meniatkan nafar awal cukup dengan kerikil 49 yang dilempar 7 kerikil lontar jumrah aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah di hari Nahar (Hari Raya Qurban), dan 21 kerikil untuk lontar ula, wustha, dan aqabah masing-masing 7 kerikil di tanggal 11 Dzulhijjah dan 21 kerikil lagi untuk lontar jumrah ula, wustha dan aqabah di tanggal 12 Dzulhijjah. Sedangkan bagi yang mengambil nafar tsani dilanjutkan dengan lontar jumrah ula, wustha dan aqabah di tanggal 13 Dzulhijjah dengan jumlah kerikil 21. Grup yang saya dampingi lebih bersepakat mengambil nafar awal yang selesai sampai tanggal 12 Dzulhijjah.
Dari muzdalifah tempat kami bermalam atau yang dikenal dengan mabil sampai lewat tengah hari kira-kira pukul 01.00 dini hari, di tanggal 10 Dzulhijjah kembali bus memacu lajunya kendati tersendat menuju mina dan sampai mendekati jamarat.
Bus pun terhenti di Mina, menuju jamarat kami jalan kaki, lalu naik bus kendati padat demi kenyamanan jamaah kami mengantri mendekat ke jamarat, turun bus lalu menfantri kembali dengan naik mobil terbuka dan turun. Jamarat pun sudah terlihat wajah lelah namun tetap sumeringah karena objek lontar jumrah sudah terlihat jelas dengan gemerlap lampu yang menyala terang.
Pelan namun pasti, kami semua jamaah rombongan satu dan dua yang jumlahnya hanya 10 orang terdiri dari rombongan satu 5 orang dan rombbongan dua 3 orang plus 2 pembimbing. Kami bergegas menuju jumrah al-‘aqabah dengan mantap di pertengah batu yang dulu disimbolkan dengan melempar syetan : Bismillahi Allahuakbar rahman lis syayatin, dear kerikilpun melesat menabrak dinding 1, 2, 3 sampai 7 batu kerikit mengenai batu jumrah aqabah dan di akhiri dengan tahallul (menggunting rambut) awal.
Selesai jamarat al-‘aqabah kami kembali ke hotel untuk rehat, sebelum rehat kami yang laki-laki ikut sunnah Nabi menggunduli rambut, setelahnya kami mandi dan rehat memulihkan tenaga.
Bakda asar kami siap-menuju ke Masjidil Harom untuk melanjutkan rukun haji yang selanjutnya yakni tawaf ifadah, sa’i dan tahallul tsani. Dengn demikian selesailah rukun haji kami kerjakan. Semoga memperoleh derajat haji yang mabrur dan mabrurah.
Selesai tahallul tsani, tidak berarti selesai semua prosesi haji, maaih ada wajib haji lainnya yang belum kami kerjakan yakni mabit di Mina dan lontar jumrah tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah karena kami mengambil nafar awal.
Sesuai agenda tepat jam 10 malam kami akan diantar ke mina untuk mabit (bermalam) dan dilanjutkan dengan lontar jumrah ula, wustah fan aqabah. Kamipun menunggu di lobby hotel, tidak beraelang lama, mobil GMC pun menyandarkan di bibir hotel, kami yang sudah siap masuk dan ikut melaju dengan mobil yang super gede yang di montiri oleh Abu Umar, sopir asli Pakistan yang baik dan soleh.
Kali ini kami hanya berdua, saya dan Pak H. Saiful yang merupakan salah satu orang penting di Telkom. Sedang kedua ibu lainnya memilih rehat dan mewakilkan lontar Jumrah nya dan memilih membayar DAM. Karena mabit dan lontar tidak teemasuk rukun haji tetapi wajib haji maka hal ini diperkenankan hanya dengan membayar DAM.
Tepat pukul 11.30 malam sampailah jami di Mina memarkir mobil, dan mendekat di area start Mina (bukan mina jadid). Rasa kantukpun datang saya tertidur pulas hanya dialasi sajadah yang cukup empuk, disamping kanan kiri saya juga berkumpul dengan tujuan yang sma mabit dan lontar. Dari logatnya dan ikat tali menandakan bendera nya samping saya adalah sekerumunan orang-orang Mesir yang asyik ngobrol ngalor ngidul dengan suara yng keras, karena dalam situasi capek dan lelah mata tidak kompromi terpejam dalam beberapa menit. Tepat pukul 13.00 Abu Umar, guide sekaligus supir GMC membangunkan tidur lelap saya dan kami bergegas menuju jamarat. Kali ini di tanggal 11 Dzulhijjah yang kami lempari adalah ula, wustha dan aqabah masing-masing dengan 7 kerikil, begitupun hari berikutnya.
Dengan berkahirnya lontar jumrah, maka berakhir pula ritual haji baik rukun maupun wajib hajinya. Alhamdulillah….. Semoga pembaca sekalian bisa dimudahkan dalam menunaikan rukun Islam yang ke lima biarlah Allah yang mengaturnya dengan caraNya. Dua kali setidaknya saya haji, tahun ini membimbing haji plus, dan tajun sebelumnya menjadi ketua kloter DKI Jakarta semuanya Allah yang mengatur pembiayaanya.

Le Meridien Hotel, Makkah, 14 Agustus 2019 M. / 13 Dzulhijjah 1440 H.

Dr. H. Hasani Ahmad Said, M.A.

  • H. Hasani Ahmad Said

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Pusiat Elhasani & Kedekatan dengan Syekh Ali Jaber
Next post BIOGRAFI DR. H. HASANI AHMAD SAID, S.Th.I., M.A.