Keteguhan Imam Ahmad bin Hanbal, Peristiwa Mihnah, & “Penistaan” Terhadap Alquran

HASANI AHMAD SAID & M. ARIFIN ILHAM

Siapa yang tidak kenal dengan kemasyhuran Imam Ahmad dalam keilmuan dan ketokohannya.
Sosok imam Ahmad bin Hanbal sangat lekat dengan ulama hadis dengan magnum opusnya yakni Musnad Ahmad bin Hanbal.
Beliau hidup pada masa khalifah al-Mutashim Billah, sang penguasa yang berpaham mu’tazilah.

Berawal dari pertanyaan dan paham dasar yang di yakini, Alquran itu qadim atau hadis [baru, makhluk]?
Paham mu’tazilah yang menyeruak ke permukaan bahkan dijadikan acuan dalam mazhab negara ketika itu adalah meyakini bahwa Alquran adalah makhluk. Kalau Alquran diyakini sebagai makhluk, maka sakralitas teks Alquran itu bisa digugat. Apakah teks Alquran yg diturunkan Tuhan melalui perantaraan Jibril itu teks suci atau tidak? Selain gaduh Alquran itu makhluk sebagaimana Muktazilah yang beraliran rasional yang terus digulirkan, yang lebih menyakitkan lagi, orang yang tidak sepaham dengan Muktazilah, maka ia akan dimusuhi bahkan tidak segan-segan untuk disiksa, dipenjara, diintimidasi dan bahkan disingkirkan dari muka bumi.

Dalam kondisi demikianlah Imam Ahmad bin Ahmad ada dan hadir ditengah-tengah ‘penistaan’ Alquran yang memaksa dan merajalela.
Imam Ahmad selain dikenal sebagai sosok ulama hadis, ia juga dikenal sebagai pemangku paham Ahlusunnah wal jamaah yang nota bene berseberangan paham dengan muktazilah soal Alquran itu makhluk.

Sejarah mencatat tragedi yang dikenal dengan tragedi Mihnah, dimana orang yang berbeda paham dengan muktazilah yakni tidak mengakui Alquran adalah makhluk maka ia akan disiksa dan dipenjarakan. Penyiksaan ini bukan hanya pada masyarakat biasa, akan tetapi juga terjadi kepada para ulama yang memegang teguh paham Ahlussunnah wal jamaah, termasuk imam Ahmad bin Hanbal.

Namun demikian, keteguhan Imam Ahmad bin Hanbal membela Alquran meskipun dipenjarakan bahkan disiksa, ternyata tidak sedikitpun menyurutkannya untuk menolak mengakui Alquran itu makhluk. Beliau tetap satu kata Alquran adalah Kalamullah, Alquran adalah qadim bukan makhluk.

Karena keteguhan paham yang diembannya ini, imam Ahmad bin Hanbal disiksa dan dipenjara oleh penguasa yakni al-Mu’tashim Billah.

Kabar penyiksaan berat terhadap imam Ahmad bin Hanbal didengar oleh Imam Syafi’i, karena itu pula membuat Imam Syafi’i menangis sampai membasahi jubah yang ia kenakan. Karena sayangnya ia terhadap imam Ahmad, sampai ia mengirimkan jubah yang basah kuyup dengan deraian air mata imam Syafii lalu diberikan kepada imam Ahmad.

Saat rakyat sudah jera dengan tingkah pola pemimpinnya ketika itu, maka Imam Ahmadpun banyak mendapat sokongan dan dukungan dari umat dan masyarakat yang cinta kepadanya. Bahkan banyak yang akan memobilisasi masa dalam rangka menggulingkan khalifah Mu’tashim Billah. Dan kabar ini pun sampai ketelingan Imam Ahmad. Sehingga, karena miskinnya kepercayaan terhadap sang khalifah, akhirnya rakyat yang menolak kebijakan khalifah meminta kepada imam Ahmad untuk menggulingkan al-Mu’tashim Billah, bahkan pendukungnya siap mati demi membela Imam Ahmad.

Dukungan terhadap Imam Ahmadpun semakin menguat dan semakin tidak terbendung. Namun demikian, Imam Ahmad adalah ulama yang wara yang tentu lebih memilih kemaslahatan ummat, beliaupun menenangkan simpatisannya, seraya mengajak untuk bersabar atas ujian yang menimpa. Beliau lebih mengutamakan kemaslahatan umat di atas segala-galanya. Sehingga pertumpahan darah mampu diredam dengan sabar dan doa.

Ibrah dari sikap Imam Ahmad melaui tulisan di atas, akan selalu relevan sampai kapanpun. Termasuk isu belakang ini yang melibatkan “Penistaan” terhadap Alquran Q.s. al-Maidah: 51 yang dilakukan oleh cagub petaha DKI Jakarta. Imbasnya muncul seruan umat Islam untuk turunkan Ahok, bahkan ada pula seruan jihad dari sebagian orang untuk penjarakan Ahok.

Isu ini semakin liar manakala dikait-kaitkan dengan momentum Pilkada DKI Jakarta yang kian memanas. Umat Islampun pecah menjadi dua kubu antara mendukung aksi seruan umat Islam untuk penjarakan Ahok seperti ormas Islam FPI dan ormas islam lainnya, dan juga ada seruan untuk melarang mengikuti seruan aksi umat Islam seperti yang dilakukan PBNU.

Ditingkat masyarakat tentu hal ini membingungkan. Akan tetapi dari keduanya bisa jadi bersepakat kalau terjadi pelanggaran hukum, kedua kubu setuju untuk dilanjutkan ke jalur hukum. Hanya saja, kepercayaan umat Islam terhadap penegak hukum inilah yang membuat kembali adanya seruan umat islam ke II yang dilaksanakan 4 November 2016.

Apapun yang dilakukan oleh kedua kubu dari umat Islam ini, melalui ibrah yang pernah dicontohkan Imam ahmad bin hambal mengajarkan betapa pentingnya ukhuwwah islamiyyah. Jangan sampai ada kesan umat islam sedang diadu domba oleh pihak-pihak manapun yang menjadi aktor dibalik layar. Selain itu, seruan umat islam yang dihadiri oleh ratusan ribu umat Islam, menunjukkan betapa semangat dan ukhuwwah Islamiyyah di Indonesia masih terbangun kuat, apalagi menyangkut penistaan agama. Penulis berkesimpulan, semakin isu penistaan agama dilakukan bahkanbtrtua dihembuskan, maka semakin kuat persatuan umat Islam. Semakin Islam ditekan, maka semakin islam juga melejit jauh melampaui agama lainnya.
Bagi pihak-pihak yang berwenang tegakkan keadilan, karena keadilan inilah barometer kesejahteraan, ketentraman dan kedamaian.

Waalahu a’lam
Pamulang, 30 Oktober 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Dimensi Ruhani Manusia
Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat Next post Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat Menggelar Pendidikan Kaderisasi Ulama Angkatan 4 & 5